Senin, 20 April 2015

Hari yang Lamanya 50.000 tahun...



Tokoh penuh hikmah Luqmanul Hakim pernah menasehati anaknya, “Anakku, hiduplah untuk duniamu sesuai porsi yang Allah berikan. Dan hiduplah untuk akhiratmu sesuai porsi yang Allah berikan.” Tak seorangpun tahu berapa lama jatah hidupnya di dunia fana ini. Ada yang mencapai 60-an, 70-an atau 80-an tahun. Ada yang bahkan berumur pendek. Wafat saat masih muda belia. Yang pasti tak seorangpun bisa memastikan porsi umurnya di dunia. Pendek kata Wallahu a’lam, Allah saja yang Maha Tahu.

Adapun jatah hidup kita kelak di akhirat adalah tidak terhingga. Kita Insya Allah bakal hidup kekal selamanya disana.


Alangkah senangnya bila hidup kekal tersebut dipenuhi dengan kenikmatan surga. Namun, sebaliknya alangkahnya celakanya bila kehidupan abadi tersebut diisi dengan siksa neraka yang menyala-nyala. “Ya Allah, kami mohon kepada-Mu surga-Mu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari siksa neraka-Mu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan.”
Artinya, jika kita bandingkan lama hidup di dunia dengan di akhirat, maka jatah hidup di dunia sangatlah sedikit. Sedangkan hidup manusia di akhirat sangat luar biasa lamanya. Praktis hidup manusia di dunia seolah zero time (nol masa waktu) dibandingkan hidup di akhirat  kelak.  Wajar bila Nabi Muhammad SAW sampai mengibaratkan dunia bagai sebelah sayap seekor nyamuk. Artinya sangat tidak signifikan. Dunia sangat tidak signifikan untuk dijadikan barang rebutan.
Orang beriman kalaupun  turut berkompetisi atau berjuang di dunia hanyalah sebatas mengikuti secara disiplin aturan main yang telah Allah  Subhaanahu wa ta’aala gariskan. Mereka tidak  mengharuskan apalagi memaksakan hasil. Sehingga bukanlah menang atau kalah  yang menjadi isyu sentral, melainkan konsistensi (baca : istiqomah) diatas jalan Allah. Berbeda dengan  orang-orang kafir dan para hamba dunia lainnya. Mereka tidak pernah peduli dengan aturan main Allah SWT.  Yang penting harus menang. Prinsip hidup mereka adalah :
- It’s now or never (kalau tidak sekarang, kapan lagi...?!)
- Sedangkan prinsip hidup orang beriman adalah  If  it’s not now then it will be in the Hereafter (kalaupun tidak sekarang, maka masih ada nanti di akhirat),
 Sehingga orang beriman akan selalu tampil elegan, tidak norak ketika terlibat dalam permainan kehidupan dunia. Sebab kalaupun ia kalah di dunia, ia sadar dan berharap segala usahanya yang bersih tersebut tidak menyebabkan kekalahan di akhirat. Sementara kalau ia  menang di dunia ia sadar dan berharap segala amal ikhlasnya bakal menyebabkan kemenangan di akhirat yang jauh lebih menyenangkan.

Diantara perkara yang selalu membuat orang beriman berlaku wajar di dunia adalah ingatannya akan hari ketika manusia dibangkitkan. Saat mana setiap kita bakal dihidupkan kembali dari kubur masing-masing lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar . Tanpa pakaian apapun dibadan dengan matahari yang jaraknya sangat dekat dengan kepala manusia. Seluruh manusia bakal hadir semua sejak manusia pertama, Adam alaihis-salam, hingga manusia terakhir. Semua menunggu giliran diperiksa dan diadili orang per orang. Sebuah proses panjang serta rangkaian episode harus dilalui sebelum akhirnya tahu apakah ia bakal senang selamanya di akhirat dalam surga Allah ataukah sengsara berkepanjangan di dalam api neraka. Proses panjang tersebut akan berlangsung lima puluh ribu tahun sebelum jelas bertempat tinggal abadi di surgakah atau neraka.
Laa haula wa laa quwwata illa billah…! Begitulah gambaran yang diberikan oleh Nabi Muhamad shollallahu ‘alaih wa sallam..

Sungguh suatu hari yang sulit dibayangkan! Apalagi karena matahari begitu dekat dari kepala manusia- selama hari itu berlangsung manusia bakal basah dengan keringat masing-masing sebanding dosa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Ada yang keringatnya hanya sampai mata kakinya. Ada yang mencapai pinggangnya. Ada yang mencapai lehernya. Bahkan ada yang sampai tenggelam dalam keringatnya. Hari itu sedemikian menggoncangkan sehingga para sahabatpun sempat resah. Mereka meminta kejelasan kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana akan sanggup melewati hari yang begitu lamanya, yakni hingga lima puluh ribu tahun. Maka Nabi Muhammad  shollallahu ‘alaih wa sallam menenteramkan hati mereka dengan menjanjikan adanya dispensasi khusus dari Allah subhaanahu wa ta’aala bagi orang beriman pada hari itu.

Sahabat bertanya kepada Rasulullah S.a.w: “Sehari seperti lima puluh ribu tahun...Betapa lamanya hari itu!” Maka Rasulullah S.a.w bersabda :”Demi jiwaku yang berada di dalam gennnaman-Nya, sesungguhnya hari itu dipendekkan bagi orang beriman sehingga lebih pendek daripada sholat wajibnya sewaktu di dunia.” (HR. Ahmad 23/337)
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Ya Allah masukkanlah kami ke dalam golongan orang beriman sejati sehingga kami sanggup menjalani hari yang tidak ada naungan selain naungan-Mu. Amin

Wallahualam bisawab...
Semoga.

1 komentar:

  1. Terima kasih sobat Mukmin untuk pencerahannya. Semoga kita termasuk golongan orang beriman serta mendapat kemudahan dan kema'afan pada saat amal diperhitungkan.

    BalasHapus